Selamat Datang!

TOLIKARA :Dulu Karubaga Wilayah GIDI,Tetapi Masjid boleh didirikan disana


Tolikara ,yang dahulunya disebut Karubaga memang dahulunya merupakan suatu daerah yang ramah aman dan damai,hal itu jelas sekali dirasakan sejak tahun 90-an dulu,sejak saat itu aku masih berada dibangku SD Inpress Karubaga,tepat bersebelahan dengan SMP Negeri Karubaga.
Sudah Hampir 20 Tahun lamanya orangtuaku mengabdi disana sebagai  guru  di SMP Negeri Karubaga,Ayahku menjabat sebagai kepala sekolah memimpin SMP Negeri yang unggul dikala itu kira-kira Tahun 90-an itu,Sekolah itu merupakan salah satu SMP yang berada di karubaga,yang sekarang disebut Tolikara


Pendekatan  dan komunikasi antara pendatang yang mengabdi sebagai guru terhadap masyarakat telah dibangun sejak dulu,antara berbeda ras dan bahkan beda agama sekalipun,dan tercipta rasa kebersamaan antara umat yang beragama,berbudaya dan kebersamaan sejak dahulu itu.
Memang kalau dibilang akhir-akhir ini konflik/kasus antara umat beragama ditolikara semakin meningkat,bahkan media-media nasional pun kerapkali mengangkatnya dengan versi mereka masing-masing blow up,hingga kasus itu hampir terdengar di jagat raya nusantara,

“Jelas bahwa Konflik Tolikara ,Hanya Emosional Oknum Tertentu,Untuk Kepentingan Tertentu, dan Blow Up Media Yang Berlebihan. Hal Ini Jelas Bahwa Tahun 90-an Hingga 2000an Saat ini , Umat Beragama  di Karubaga Tetap Aman dan Terkendali”

Sejak itu,aku masih ingat persis bahwa dikarubaga merupakan wilayah yang dihuni mayoritas Umat yang beragama GIDI (Gereja Injil di Indonesia),para tokoh adat dan tokoh agama menempatkan bahwa wilayah karubaga dulunya itu merupakan wilayah GIDI menurut pembagian wilayah agama yang jelas sudah dibicarakan kepada bupati,katanya sejak itu. dari beberapa agama yang ada sejak itu yang terbagi dibeberapa daerah lainnya masing-masing sesuai pembagiannya.

Memang benar sekali bahwa dari dulu tahun 90an itu,pembangunan gereja dibatasi diwilayah karubaga itu, salah satunya bahwa ,pernah orangtuaku bersama kelurga yang beragama katolik hampir 80 kepala keluarga disaat itu yang berada dikarubaga, meminta kepada pemerintah setempat dan masyarakat untuk membangun sebuah gereja Katolik,namun hal ini juga dibatasi bahwa memang diharuskan hanya  Gereja GIDI saja di wilayah itu katolik,KINGMI dan GKI dan nasrani lainnya sama saja menurut masyarakat setempat sejak itu,pernah meminta ibadah khusus umat katolik di sore hari dengan meminjamkan gereja GIDI namun problem di  Uang Persembahan, sehingga kami memilih mengikuti ibadah di Gereja GIDI ,walaupun sedikit berbeda tata cara ibadahnya.

Walaupun dulunya Gereja dibatasi karena bisa dibilang sesama nasrani hanya boleh Ibadah di GIDI saja,Namun Masyarakat dan Pemerintah Setempat memperbolehkan umat Muslim untuk mendirikan Musolah hal ini pun perlu diberikan Aspresiasi yang sebesar-besarnya kepada Umat GIDI ,Masyarakat dan Pemerintah dikala itu jelas sekali bahwa masyarakat dan pemerintah menghargai pendatang yang beragama muslim yang datang dari berbagai daerah ditanah air ,bahwa masyarakat menghargai bahwa patut mendapatkan haknya dalam beribadah apalagi hampir seluruh tata ibadahnya berbeda dengan nasrani yang ada sedikit kesamaan.
#Lebarandipapua #PapuaPenuhDamai #FKUB #BloggerPapua #DamaiPapua

Share this post :
Posting Komentar

Google+ Badge

 
Support : bloggerpapua.idm | DownloadRPP | bloggerpapua.id
Copyright © 2015. Fransiskus Kobepa - All Rights Reserved
Admin by dzulcyber.com
Proudly powered by Blogger