Selamat Datang!

Pembahasan Birahi Ternak Mamalia



II.   PEMBAHASAN
1.      Birahi Pada Sapi
Sapi yang normal mengalami birahi pertama antara umur 1,5 – 2 tahun, namun di lapangan banyak juga ditemukan sapi betina yang mengalami birahi pertama pada umur diatas 2 tahun.Lambatnya terlihat gejala birahi dapat merugikan peternak dari segi waktu, tenaga dan materi. Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :

1.      ternak gelisah
2.      sering berteriak
3.      suka menaiki dan dinaiki sesamanya
4.      vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
5.      dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
6.      nafsu makan berkurangGejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak.
Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas. Betina-betina yang berahi mempunyai vulva yang lembab, lender bening seringkali nampak keluar dari vulva. Betina yang dalam fase lain dalam siklus berahi bisa jadi menaiki betina lain, tetapi tidak mau jika dinaiki, oleh karena itu betina diam dinaiki merupakan tanda tunggal yang kuat bahwa betina dalam keadaan berahi.
Jika seekor betina memasuki siklus berahi, manakala betina tersebut dalam keadaan fertile, dimana betina ini berovulasi atau melepas sel telur dari ovariumnya. Waktu terbaik unatu menginseminasi dalah jika betina dalam keadaan standing heat, yaitu sebelum terjadi ovulasi.
Satu hal yang dianjurkan untuk mengadakan pendeteksian berahi adalah denga cara menempatkan sapi-sapi dara atau induk pada sebuah padang penggembalaan deteksi berahi. Padang penggembalaan ini seyogyanya cukup luas, memungkinkan betina-betina bisa kesana-kemasi dan bebas merumput, namun juga tidak terlalu luas, sehingga operator dapat mengadakan deteksi berahi dengan mudah.
Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk mengamati betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi, adalah dianjurkan bagi operator meluangkan waktu selama minimal 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Operator juga dianjurkan memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang sama setiap hari. Jadi, mempelajari mengenal tanda-tanda berahi dan mengetahuinya betina-betina yang sedang berahi merupakan kunci suksesnya satu program IB.
Lamanya berahi bervariasi pada tiap – tiap hewan dan antara individu dalam satu spesies. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh variasi-variasi sewaktu estrus, terutama pada sapi dengan periode berahinya yang terpendek di antara semua ternak mamalia.
Berhentinya estrus sesudah perkawinan merupakan indikasi yang baik bahwa kebuntingan telah terjadi. Akan tetapi dapat juga terjadi pada 3 sampai 5 % sapi – sapi yang bunting selama 3 bulan pertama masa kebuntingan walaupun dapat terjadi dalam bulan–bulan yang lebih tua.
Siklus Berahi
Menurut perubahan-perubahan yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan selama siklus estrus maka siklus estrus dibedakan menjadi empat fase yaitu proestrus, estrus, metestrus/postestrus, dan diestrus. Pembagian yang lain berdasarkan perkembangan folikel dan pengaruh hormon maka siklus estrus dibedakan menjadi fase folikuler atau estrogenik yang meliputi proestrus dan estrus, serta fase luteal atau progestational yang terdiri atas metestrus/postestrus dan diestrus.
Proestrus
            Proestrus merupakan periode sebelum hewan mengalami estrus yaitu periode pada saat folikel de Graff sedang tubuh akibat pengaruh FSH dan menghasilkan estradiol dengan jumlah yang semakin bertambah. Sistem reproduksi melakukan persiapan-persiapan untuk melepaskan ovum dari ovarium. Folikel atau folikel-folikel (tergantung spesiesnya) mengalami pertumbuhan yang cepat selama 2 atau 3 hari, kemudian membesar akibat meningkatnya cairan folikuler yang berisi hormon estrogenik.
            Estrogen yang diserap oleh pembuluh darah dari folikel akan merangsang saluran reproduksi untuk mengalami perubahan-perubahan. Sel-sel dan lapisan bersilia pada tuba falopii pertumbuhannya meningkat, mukosa uteri mengalami vaskularisasi, epitel vagina mengalami penebalan dan terjadi vaskularisasi, serta serviks mengalami elaksasi secara gradual. Banyak terjadi sekresi mukus yang tebal dan berlendir dari sel-sel goblet seriks, vagina bagian anterior, dan kelenjar-kelenjar uterus. Pada sapi dan kuda terjadi perubahan dari mukus yang lengket dan kering menjadi mukus kental seperti susu, dan pada akhir proestrus berubah lagi menjadi mukus yang terang, transparan, dan menggantung pada vulva. Corpus luteum dari periode sebelumnya mengalami vakuolisasi, degenerasi, dan pengecilan secara cepat.
Estrus
            Estrus merupakan periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode estrus, umumnya betina akan mencari dan menerima pejantan untuk kopulasi. Folikel de Graff menjadi matang dan membesar, estradiol yang dihasilkan folikel de Graff akan menyebabkan perubahan-perubahan pada saluran reproduksi yang maksimal. Selama atau segera setelah periode ini terjadi ovulasi akibat penurunan FSH dan meningkatka LH dalam darah.
Pada periode ini, tuba falopii mengalami perubahan yaitu menegang, berkontraksi, epitelnya matang, cilianya aktif, dan sektesi cairan bertambah. Ujung oviduk yang berfimbria merapat ke folikel de Graff untuk menangkap ovum matang. Uterus akan berereksi, tegang, dan pada beberapa spesies akan mengalami oedematus. Suplai darah meningkat, mukosa tumbuh dengan cepat dan lendir disekresikan. Serviks mengendor, agak oedematus, dan sekresi cairanya meningkat. Mokosa vagina sangat menebal, sekerinya bertambah, epitel yang berkornifikasi tanggal. Vulva mengendor dan oedematus pada semua spesies, pada babi sangat jelas. Pada sapi terdapat leleran yang bening dan transparan  seperti seutas tali menggantung pada vulva. Pada akhir estrus terjadi peningkatan leukosit yang bermigrasi ke lumen uterus.
Metestrus/Postestrus
            Metestrus merupakan periode segera setelah estrus, ditandai dengan pertumbuhan cepat korpus luteum yang berasal dari sel-sel granulosa yang telah pecah di bawah pengaruh LH. Metestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh hormon progesteron yang dihasilkan korpus luteum. Kehadiran progesteron akan menghambat sekresi FSH sehingga tidak terjadi pematangan folikel dan estrus tidak terjadi.
            Pada periode ini, uterus mengadakan persiapan untuk menerima dan memberi makan embrio. Pada awal postestrus, epitelium pada karunkula uterus sangat hiperemis dan terjadi hemoragis kapiler yang menyebabkan terjadinya pendarahan. Sekresi mukus menurun dan diikuti pertumbuhan yang cepat dari kelenjar-kelenjar endometrium. Pada pertengahan sampai akhir metestrus, uterus agak melunak karena otot-ototnya mengendor. Apabila tidak terjadi kebuntingan maka uterus dan saluran reproduksi yang lain akan beregresi kekeadaan kurang aktif.
Diestrus
            Diestrus merupakan fase terakhir dan terlama dalam siklus estrus ternak-ternak mamalia. Korpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi dominan. Endometrium menebal, kelenjar uterina membesar, dan otot uterus menunjukkan peningkatan perkembangan. Perubahan ini ditunjukkan untuk mensuplai zat-zat makanan bagi embrio bila terjadi kebuntingan. Kondisi ini akan terus berlangsung selama masa kebuntingan dan korpus luteum akan dipertahankan sampai akhir masa kebuntingan.
Serviks menutup rapat untuk mencegah benda-benda asing memasuki lumen uterus, mukosa vagina menjadi pucat, serta lendirnya mulai kabur dan lengket. Apbila tidak terjadi kebuntingan, maka endometrium dan kelenjar-kelenjarnya beratrofi atau berregresi keukuan semula. Folikel-folikel mulai berkembang dan akhirnya kembali ke fase proestrus.
Pada  beberapa spesies yang tidak termasuk golongan poliestrus atau poliestrus bermusim, setelah periode diestrus akan diikuti anestrus. Anestrus yang normal akan diikuti oleh proestrus. Secara fisiologis, aneastrus ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Anestrus fisiologis dapat diobservasi pada negara-negara yang mempunyai 4 musim, yaitu musim semi dan panas pada domba serta selama musim dingin pada kuda. Selama anestrus, uterus kecil dan kendor, mukosa vagina pucat, lendirnya jarang dan lengket, serta serviks tertutup rapat dengan mukosa yang pucat. Aktivitas folikuler dapat terjadi dan ovum dapat berkembang tetapi tidak terjadi pematangan folikel dan ovulasi.
2.      Birahi Pada Kambing
Ternak dikawinkan jika betina tengah mengalami gejala estrus atau birahi. Apabila ternak diketahui berahi pada pagi hari, maka sorenya adalah waktu yang tepat untuk dikawinkan. Sedangkan bila tanda-tanda birahi itu terjadi di sore hari, maka pagi hari harus segera dikawinkan. Apabila perkawinan terlambat, maka sel telur tak bisa dibuahi karena berkaitan erat dengan proses terjadinya ovulasi dan masa hidupnya sperma di dalam alat reproduksi. Begitu juga apabila kambing terlalu awal dikawinkan, karena belum dicapai kesuburan optimal. Tanda-tanda birahi pada ternak kambing betina adalah sebagai berikut :
    Tampak gelisah dan sering mengeluarkan suara-suara
    Sering mengibas-ngibaskan ekor, jika ekor dipegang akan diangkat ke atas
    Nafsu makan berkurang ; bila kambing digembalakan sebentar-sebentar akan berhenti merumpu    Vulva nampak membengkak berwarna merah
    Dari vagina keluar cairan berwarna putih agak pekat
    Bagi kambing perah, produksi air susu menurun
    Bagi kambing betina yang dipelihara dalam kandang sering tidak menunjukkan gejala di atas. Keadaan demikian disebut birahi tenang.
Lama waktu birahi ternak kambing betina : 1-2 hari. Siklus birahi/ munculnya birahi ternak betina setiap 19-20 hari. Adapun umur pertama birahi pada kambing yaitu pada saat dewasa kelamin karena merupakan masa munculnya gejala birahi pertama kali pada ternak jantan maupun betina. Dewasa kelamin pada ternak jantan umur 6-8 bulan dan betina pada umur 8-12 bulan.
Siklus Estrus
Rata-rata siklus estrus kambing adalah 17 hari. Namun, biasanya ada varisi dalam siklus tersebut hal ini dikarenakan adanya perbedaan ras dan individu kambing tersebut. Dalam spesies ternak lainnya telah menemukan bahwa meskipun ada variasi diantara individu kambing yang berbeda, namun panjang siklus untuk kambing relatif konstan. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti stres lingkungan,kekurangan gizi, dan cuaca dapat mengganggu keteraturan siklus estrus tersebut.
Fase Proestrus
Fase proestrus merupakan fase sebelum estrus dimana folikel de Graaf tumbuh dibawah pengaruh FSH sebagai persiapan pelepasan ovum dari ovarium. Ciri-cirinya antara lain : terjadi peningkatan pertumbuhan silia tuba fallopii,vascularisasi mucosa uteri dan vascularisasi epitel vagina. Servik mensekresikan mukosa tebal dan berlendir, mukosa yang kental menjadi terang dan transparan dan menggantung pada vagina diakhir proestrus.
Fase Estrus
periode setelah proestrus ini adalah ditandai dengan timbulnya keinginan kelamin untuk kawin, betina menerima pejantan untuk berkopulasi. Selain hal itu, terjadi pematangan folikel de Graaf, tuba fallopii menegang dan ujungnya (fimbrae) merapat ke folikel, uterus memberikan reaksi kemudian servik mengendor dan tampak sekali tanda-tanda birahi. Pada masa akhir esrus ini terjadi ovulasi.
Fase Metestrus
Merupakan fase pasca estrus. Pada fase ini corpus luteum berkembang dibawah pengaruh hormone LH. Corpus Luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi menghambat sekresi FSH sekaligus menghambat perkembangan folikel de Graaf sehingga tidak terjadi estrus. Ciri-cirinya antara lain : Ephitelium pada carunculae terjadi hiperemis yaitu haemorhagi kapiler dan terjadi pendarahan proestrus atau menstruasi
Fase Diestrus
Merupakan periode terakhir siklus estrus. Pada masa ini corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi sangat nyata. Servik kembali menutup, lender vagina lengket dan uterus mengendor. Pada fase inilah perkembangan folikel primer dan sekunder mulai terjadi, sedangkan folikel de Graff tidak akan terjadi setelah fse diestrus berakhir.
Fase Anestrus
Selain fase utama diatas, dalam siklus estrus juga dikenal fase anestrus. Fase ini ditandai dengan ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Aktivitas folikuler pada ovarium berkembang tetapi pematangan folikel dan ovulasi jarang terjadi. Selama periode anestrus, fase diesrus berlangsung pendek, corpus luteum menjadi matang dan uterus  mengendor kecil lalu cerviks merapat,mukosa vagina dan serviks pucat.
3.      Birahi Pada Domba
Pubertas  (birahi pertama) untuk ternak domba, terjadi pada umur 6 - 12 bulan. Oleh karena pada pubertas organ kelamin belum sempurna maka dianjurkan ternak dikawinkan setelah umur 1 tahun. Pada masa birahi, disertai ovulasi (masaknya ovum atau telur). Masa birahi terjadi hanya beberapa saat, yaitu sewaktu hormon estrogen mencapai puncaknya. Masa birahi domba terjadi 24 - 36 jam.
Jarak antara birahi yang satu sampai dengan pada birahi berikutnya disebut sebagai satu siklus birahi, adapun yang dimaksud dengan birahi (estrus) adalah kondisi dimana ternak betina bersedia menerima pejantan untuk dikawini. Lama siklus birahi pada ternak domba rata-rata  16 – 18 hari.
Pada saat masa birahi domba betina menunjukan tanda-tanda sebagai berikut :
a.          Ternak gelisah, nafsu makan berkurang
b.         Menaiki teman-temannya
c.          Mengangkat-angkat ekornya
d.         Menggosok-gosokan kemaluannya ke dinding kandang
e.   Pada kemaluannya membengkak, merah, keluar lender, dan selalu kencing
            Gejala birahi perlu diketahui oleh para peternak apabila perkawinannya menggunakan perkawinan buatan. Apabila kawin alam maka pejantan akan mengetahui domba betina yang sedang dalam masa birahi. Domba pejantan akan mengendus-endus  kemaluan betina, jika terdapat bau khusus harum yang menurut domba pejantan dan pejantan akan menaiki domba betina yang sedang birahi.
Siklus Estrus
Berdasarkan perilaku seksual, maka siklus estrus dapat dibagi menajdi 4 fase, yaitu :
Proestrus
Adalah periode persiapan birahi sesudah corpus luteum mengalami regresi (luteolisis). Pada periode ini terdapat pertumbuhan folikel oleh rangsangan Follicle stimulating Hormon (FSH) dari hipofisis anterior. Hormone estrogen yang berasal dari folikel perlahan kadarnya meningkat di dalam darah, yang menyebabkan timbulnya tanda-tanda birahi mulai terlihat.
Lama fase Proestrus pada domba berlangsung selama 2 – 3 hari, sedangkan pada kambing 1 – 2 hari. Dimana pada fase ini akan diakhiri dengan adanya gejala birahi yang tampak.
Estrus
Adalah suatu periode dimana ternak betina bersedia menerima pejantan untuk dikawini. Selama periode ini domba betina yang birahi akan mendekati dan memperhatikan pejantan, menggoyang-goyangkan ekornya, menggesek-gesekkan badannya ke tubuh pejantan, berjalan mengelilingi pejantan dan menciumi alat genital pejantan, dan akhirnya diam apabila dinaiki oleh pejantan. Lama fase Estrus pada domba berlansung sekitar 24 – 36 jam, sedangkan pada kambing 34 – 38 jam.
Metestrus
Metestrus ditandai dengan berakhirnya tanda-tanda birahi, terjadinya ovulasi 24 – 27 jam setelah awal birahi. Corpus luteum mulai tumbuh dan berkembang memproduksi hormone progesterone walaupun sel-sel luteal belum terbentuk sempurna. Kadar FSH, LH dan Estrogen dalam darah telah kembali pada level basal.
Diestrus
Diestrus merupakan periode siklus estrus yang terpanjang, dimana pada periode ini corpus luteum telah terbentuk sempurna, hormone progesterone yang dihasilkan kadarnya makin meningkat di dalam darah sehingga pengaruhnya terhadap pertumbuhan dinding uterus makin jelas. Endometrium menebal, kelenjar-kelenjar otot polos uterus berkembang untuk persiapan memelihara embrio dan pembentukan plasenta apabila ternak tersebut mengalami kebuntingan. Apabila tidak terjadi fertilisasi, ovarium kembali ke fase Proestrus dengan terjadinya regresi corpus luteum. Fase ini berlangsung selama 12 – 14 hari.
4.      Birahi Pada Kerbau
Apabila seekor kerbau dara menunjukkan keinginan kawin dan gejala birahi pertama, maka kerbau tersebut sudah pubertas. Kerbau memperlihatkan keinginan kawin dan birahi pertama (age of puberty) pada umur 28 bulan pada yang jantan dan 29 bulan pada yang betina. Perkawinan kerbau terjadi pertama kalinya setelah dewasa kelamin (sexualmaturity) pada umur 33 bulan baik untuk yang jantan maupun betina.
Gejala berahi pada kerbau cukup jelas, kerbau betina memperlihatkan pembengkakan vulva, pengeluaran lendir jernih melalui vulva, dan diam berdiri untuk dinaiki oleh pejantan. Apabila jantan mencium-cium daerah genital pada betina maka kerbau betina yang berahi akan mengangkat ekornya, reaksi yang sama diperlihatkan oleh kerbau apabila bagian tersebut diusap oleh tangan manusia, betina yang tidak berahi memberikan reaksi yang mengelak atau lari.
Siklus Birahi
Siklus berahi pada kerbau lumpur berkisar antara 21 - 22 hari dan lama estrus bervariasi 20 - 24 jam.
Lanjutan : III
Share this post :
Posting Komentar

Google+ Badge

 
Support : bloggerpapua.idm | DownloadRPP | bloggerpapua.id
Copyright © 2015. Fransiskus Kobepa - All Rights Reserved
Admin by dzulcyber.com
Proudly powered by Blogger