Selamat Datang!

Dilema Penggunaan Kontrasepsi & Perkawinan Orang Asli Papua

Pengantar
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Menjalankan Program KB (Keluarga Berencana) di Seluruh Nusantara, mengingat Program KB berhubungan dengan pemakaian  alat, obat dan kontrasepsi yang berindikasi terhadap masalah medis, dalam perkembangannya banyak mendapat tanggapan positif dan negatif khususnya orang asli papua yang menyebar luas di kalangan masyarakat hal ini dibuktikan dari beberapa aspek yang mendalam dalam seminar,diskusi maupun kajian tentang perkembangan dan dilema orang papua dan penggunaan kontrasepsi yang mendefinisikan beberapa faktor-faktor yang harus dipertimbangkan
Pengunaan dan Dampak Di Masyarakat
Penggunaan Kontrasepsi sudah menjadi hal yang tak asing lagi dikalangan masyarakat saat ini , orang asli papua pun mengikuti kebijakan tersebut untuk menekan kelahiran anak, tak melarang menggunakan program KB (keluarga berencana), namun perlu kita sadari dengan cermat bahwa pertumbuhan orang asli papua hari semakin hari jumlahnya menurun drastis, Bicara angka kelahiran anak papua semakin sedikit tersebut di lihat dari berbagai penelitian yang telah dilakukan maupun jumlah data di BPS (badan pusat statistik) papua penelitian pada tahun 2014 ,termarjinalkan , adanya juga fakta dilapangan bahwa masyarakat Menentang KB(keluarga berencana) hal ini dibenarkan juga dalam pandangan Agama bahkan LSM dan tokoh pemuda lainnya seperti diberitakan dimedia beberapa waktu lalu bahwa gubernur papua akan memberikan hadiah kepada Ibu orang asli papua yang melahirkan 10 anak ,hal ini menjadi suatu bukti yang kuat bahwa tingkat jumlah orang asli papua semakin menurun adapun terjadi keluhan korban KB yang mematikan namun Kondom di anggap lebih baik dengan alasan untuk kesehatan, namun kita lihat beberapa keluhan masyarakat asli papua yang mengikuti Program KB dengan alasan tak mampu membiayai anaknya,sehingga terpaksa mengikuti KB adapula yang mengikuti KB dengan alasan menekan lama waktu kelahiran, seperti Ibu hamil dalam waktu 3/4 tahun disuntik kontrsepsi ,namun ternyata hasilnya kandungannya kering, hingga tak mampu melahirkan (tak dapat anak),Sehingga proses KB membuat perkembangan biak khususnya orang asli papua semakin menurun.

Ditanah papua kurang ada kepercayaan masyarakat terhadap alat kontrasepsi sehingga masyarakat bahkan lebih memilih dan cenderung ke dukun persalinan dengan cara alami dilingkungan,sama halnya dengan membeli obat cenderung ke Apotik dan Dokter Praktek di banding dengan Puskesmas. Adapun upaya dari pemerintah Provinsi Papua melalui BKKBN dalam hal ini ketersedianya dituliskan jelas dalam sebuah Buku Lengkap "Usia menimal menikah remaja perempuan :20 tahun lakilaki 25 tahun Program PUP (Pembebesan Usia Perkawinan) perempuan massa Menstruasi 11 Tahun ,laki-laki massa puber 12 Tahun,merupakan syarat pembebasan usia perwainan sangat diharapkan karena demi kesehatan generasi masa depan. Terkadang untuk kebaikan diri sendiri,orangtua dan kelompok dalam menjaga kepercayaan terkadang Mereka menunda waktu perkawinan,dengan alasan belum siap dalam membina rumah tangga, belum mampu secara spiritual,ekonomi dan kedewasaan, karena nikah terlalu muda sangat rawan dalam pemikiran dan tindakan masih belum serius sehingga sering terjadi juga perselingkuhan yang mengakibatkan hal-hal yang buruk bahkan kehancuran rumah tangga pun mudah sering terjadi ,karena pemikiran masih belum dewasa dan sangat berisiko sehingga menunda pernikahan hal ini juga sangat baik,sehingga harusnya ada kesadaran dari diri pribadi untuk menjalani hidup dalam berkeluarga karena beberapa pilihan diatas ini mengajak kita untuk sadar,cermat dan jelih dalam melihat persoalan yang ada sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.


Share this post :
Posting Komentar

Google+ Badge

 
Support : bloggerpapua.idm | DownloadRPP | bloggerpapua.id
Copyright © 2015. Fransiskus Kobepa - All Rights Reserved
Admin by dzulcyber.com
Proudly powered by Blogger